Kotoran Ternak Penuhi Kota Piru, Ini Kata Bung Gelar
Sapi, foto: pixabay.com
Tabran Rumonin
06 Nov 2020 09:25 WIT

Kotoran Ternak Penuhi Kota Piru, Ini Kata Bung Gelar

Liputan SBB--Peraturan Bupati (Perbup) Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), nomor 3 tahun 2015, terkait penertiban hewan ternak, telah disahkan kiranya hampir lima tahun lalu, meski begitu, sampai saat ini Perbup tersebut, belum perna disosialisasikan Pemda SBB.

Hal itu di sampaikan Bung Gelar kepada media ini, dia juga sala satu warga Desa Piru, Kota Kabupaten SBB, yang juga peternak hewan jenis Sapi.

Akibatnya, hewan peliharan (Ternak) itu pun, bebas berkeliaran hinga ke badan-badan jalan umum, dan terlihat sangat menggangu aktivitas penguna jalan di Kota Piru.

Parahnya lagi, akibat dari liarnya Ternak tersebut, angka kecelakan lalulintas (Laka lantas) pun meningkat akhir-akhir ini, sering sekali pengguna jalan roda dua dan empat yang menabrak ternak jenis Sapi dan Anjing itu.

Terkait liarnya hewan-hewan tersebut, terpantau media ini di Piru, Kota Kabupaten SBB, banyak hewan jenis Sapi, Anjing dan sejenisnya, yang setiap saat memadati ruas jalan di sana, bahkan kotoran dari hewan itu pun, terlihat banyak di badan-badan jalan umum, sehinga merusak indahnya pamandangan Kota Saka Mese Nusa tersebut.

Bung Gelar, yang juga Peternak hewan itu, saat diwawancari Liputan Seram Barat, pada Jumat 6 Novemer 2020, menyebut, sampai saat ini kami belum tau ada Peraturan Bupati terkait penertiban hewan ternak.

"Mungkin ada aturan itu, tapi selama ini katong (Kami), para peternak belum perna dipangil untuk ikut sosialisasi terkait Perbup itu, " pungkasnya. 

Selama ini juga Dinas terkait, kata Dia, atau Pemda tidak perna menegur persoalan liarnya hewan ternak yang ada di dalam Kota Piru.

Untuk diketahi berdasarkan Perbup nomor 3 tahun 2015 terkait penertiban hewan ternak jenis Sapi, Kerbau, Kambing, Anjing dan sejenisnya, diwajibkan hewan tersebut dikandangkan atau di ikat berdasarkan Perbup tersebut.

Tidak hanya itu, dalam aturan juga menjelaskan, jika para peternak lalai, membiarkan hewan tersebut liar dan mengakibatkan kecelakan laka lantas, atau memakan tanaman orang, maka oknum peternak itu, dikenakan denda atau berhadapan langsung dengan Hukum perundang-undangan yang ada di KUHP yaitu 548/549 KUHP. (tabran).

0 Suka